Here's a discarded Indonesian poem, that an old lover and I once collaborated
on and of which almost became the spine of my second novel, entitled Dialog,
circa 2011. Our love was, unfortunately, disposable; but I've decided
that it would be a shame if this wasn't shared. Language barriers suck, I
apologise. Translating isn't the worst thing in the world, but for sure, it would kill the poem.
Gue ingin persembahkan, Dialog, sebuah puisi terbuang circa 2011 yang hampir menjadi tulang belakang buku kedua gue. Puisi berikut adalah sebuah perbincangan dan kolaborasi antara gue dan seorang kekasih lama. Kisah cinta kami sayangnya semacam sekali pakai; tetapi akan sia-sia kalau dialog kami terbuang dan terlupakan. Semoga menikmati.
- - - - - - -
Aku tak pernah percaya pada kebetulan. Orang yang tepat di saat yang tepat. Kita sepakat, kita mau, itu alasan kita bisa maju. Melangkah, katamu. Kita bukan manusia istimewa, tak super pula, seadanyalah. Sama takut terhadap hal-hal yang sulit dirangkum kisahnya. Kita tahu beberapa hal membunuh kita dalam topeng tawa yang bertahun sudah lamanya terpasang di muka. Kita cemooh dia, karena tahu tak sanggup melakukan apapun untuk melawannya. Dia, si Nyata.
Jadi simpan saja segala keajaiban untuk mereka yang percaya keindahan dongeng peri-peri baik hati, kita tak pernah dibiasakan untuk mencari penghiburan. Realita memakanmu, hidup menelanku. Tapi peduli apa terhadap jalan cerita yang digariskan Tuhan atau siapalah nama-Nya.
Kamu dan aku punya rencana, kamu dan aku punya cita-cita. Ada mimpi-mimpi yang kita bagi saat malam menjelang tinggi. Ada harap-harap utopis yang kita lebih gemar membayangkannya daripada membuang tenaga mewujudkannya. Kamu dan aku berusaha keras menjadi idealis, ayolah... Bukan waktunya lagi sudah. Kita tercipta terlalu realistis.
Lalu apa? Aku belum akan menyerah, tidak sekarang, mudah-mudahan sampai nanti. Bila dengan perencanaan semua akan berakhir berantakan, kenapa tak kita tinggalkan saja peradaban. Melompat zaman pergi ke tahun terdepan, di mana semua hal menjadi lebih mudah hanya dengan doa dan berusaha. Karena di sini, dongeng alkitab itu tidak nyata.
Tidak nyata.
"Tenanglah kita harus tetap melawan dengan sebaiknya-baiknya,sehormat-hormatnya".
- - - - -
Aku pernah diberitahu oleh seorang yang merasa bijaksana bahwa kisah hidupku telah tertulis rapi bahkan sebelum aku ada. Lahirku, matiku. Deritaku, bahagiaku. Sendiriku, jodohku. Ya, baiklah. Aku pasrah gemulai kepada angin yang akan membawaku. Aku pasrah gemulai kepada Dia, penciptaku.
Kamu. Apakah kamu pun telah tertulis rapi dalam sebuah bab di dalam hidupku? Bahkan sebelum aku ada?
Tetapi nasibku sekarang telah mengajarkan aku bersifat apatis terhadap lukisan-lukisan yang berisikan ramalan tentang masa depanku. Nafasku saja sudah terdengar malas ketika membicarakan mimpi. Entah kamu dengar atau tidak. Di hadapanku sekarang ada sekian persimpangan dan serasa kemanapun kubelok, serba salah. Serasa Dia menggelitik punggungku ketika aku berjinjit di ujung tebing. Aku tidak punya waktu untuk berfikir bagaimana aku akan menjadikan ide-ideku menjadi sebuah aksi nyata mencapai mimpi.
Kamu. Apakah kamu hanya sebuah pilihan di depan persimpangan? Atau sebuah hasil di balik persimpangan?
Kita berbagi harap-harap utopis seakan yakin akan terus berpeluk seperti ini. Seakan yakin Sion menanti kita.
- - - - -
Kamu benar. Aku gentar.
Kamu malu. Aku palsu.
Lalu, siapa yang palsu karena malu?
Hukumkah yang membuat kamu harus berbelok setiap ada persimpangan?
Tidak usah di jawab dulu. Aku tahu kamu sedang berpikir, kan?
Aku tahu kamu letih memilih arah. Kamu haus, kan?
Ayo, sini duduk bersamaku. Aku sudah lama bersandar di sini.
Menantang senja, menjilati hujan, mengejek bulan.
Kamu tidak suka?
Sudahlah, ayo duduk sebentar saja disampingku.
Aku sudah lama bersandar di sini.
Lihat, aku punya sesuatu untuk kita berdua.
Lihat, secangkir kopi hitam pembunuh.
Membunuh sesuatu yang telah Dia ciptakan agar kita terbunuh.
Ya, aku memang punya masalah dengan-Nya.
Hey, jangan kamu habiskan kopinya.
Kamu meneguk kehausan seakan kamu lupa ajakanku untuk duduk bersama?
Lihat kopi habis kamu tertawa.
Tawamu membunuh Sion di seberang persimpangan.
Dan aku terbunuh karena anjing itulah makanan terakhirku.
Terbunuh Anjing Membunuh.
- - - - -
Kamu benar. Aku gentar.
Kamu malu. Aku palsu.
Lalu, siapa yang palsu karena malu?
Hukumkah yang membuat kamu harus berbelok setiap ada persimpangan?
Tidak usah di jawab dulu. Aku tahu kamu sedang berpikir, kan?
Aku tahu kamu letih memilih arah. Kamu haus, kan?
Ayo, sini duduk bersamaku. Aku sudah lama bersandar di sini.
Menantang senja, menjilati hujan, mengejek bulan.
Kamu tidak suka?
Sudahlah, ayo duduk sebentar saja disampingku.
Aku sudah lama bersandar di sini.
Lihat, aku punya sesuatu untuk kita berdua.
Lihat, secangkir kopi hitam pembunuh.
Membunuh sesuatu yang telah Dia ciptakan agar kita terbunuh.
Ya, aku memang punya masalah dengan-Nya.
Hey, jangan kamu habiskan kopinya.
Kamu meneguk kehausan seakan kamu lupa ajakanku untuk duduk bersama?
Lihat kopi habis kamu tertawa.
Tawamu membunuh Sion di seberang persimpangan.
Dan aku terbunuh karena anjing itulah makanan terakhirku.
Terbunuh Anjing Membunuh.
- - - - -
Petang kemarin telah kupilih sudah satu persimpangan dimana kulihat sosokmu di ujungnya. Kamu melambai memanggil, menyodorkan dada untuk kupeluk. Aku sedang pelan melangkah menyusuri jalan itu, bukan untukmu, tetapi untukku.
Kamu terus ucapkan kiasan-kiasan seakan kamu ingin mati hari ini juga. Lalu sia-siakah waktu yang telah kuhabiskan untuk bersandar di pundakmu?
"Jangan mati dulu.. Aku masih nyaman dengan keberadaanmu.."
Aku saksikan kamu menuliskan rencana-rencana kelam terbalut nafas pesimis. Bahkan sebelum kita duduk bersama bergandeng jari, kamu sudah berdusta padaku, tentang peradaban di kehidupan sempurna dimana semua nyata.
Jangan tuduh aku menghabiskan kopi pembunuhmu. Jangan jadikan aku alasan atas tertundanya cita-cita melankolismu.
"Aku sayang kamu.. Jangan pejamkan matamu dulu.."
Aku rasakan ruang-ruang dalam hatiku terisi oleh rasa egois. Harapku aku bunuh saja kamu bila tidak bisa kumilikimu, sehidupmu, semua untukku.
Kita harmonis dalam pencarian alibi untuk melawan satu kata yang manusia terima ada apanya, takdir. Tetapi kita sama-sama tahu bahwa ini bukan sekedar kebetulan.
Berdustalah padaku semaumu, tinggalkan aku bila itu memang tujuanmu.
"Ya sudah. Tidurlah dengan lelap dan mimpikan aku menertawakanmu sambil meneriakkan bahagiaku telah sampai di Sion tanpamu."
Aku benci kamu. Dan dalam sekedip, aku lupa.
- - - - -






